HistoricalRomance

REVIEW: BUMI MANUSIA (2019)

78views

Nontonapa – Bumi Manusia merupakan film garapan sutradara handal Hanung Bramantyo yang skenarionya ditulis oleh Salman Aristo. Bumi Manusia juga ternyata memang hasil dari adaptasi novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer yang kala itu diterbitkan pada 25 Agustus 1980. Laris pada masanya saat itu dan memiliki alur cerita yang menarik, membuat Falcon Pictures memproduksinya menjadi sebuah karya film.

Image result for bumi manusia film

Singkat cerita ini adalah sebuah kisah dua anak manusia yang meramu cinta di atas pentas pergelutan tanah colonial awal abad 20. Inilah kisah Minke dan Annelies. Cinta yang hadir di hati Minke untuk Annelies, membuatnya mengalami pergelutan batin tak berkesudahan. Dia yang adalah seorang pemuda pribumi, Jawa totok. Sementara Annelies adalah seorang gadis Indo Belanda anak seorang Nyai. Bapak Minke yang baru saja diangkat menjadi seorang Bupati, tak pernah menyetujui Minke dekat dengan keluarga Nyai. Sebab posisi Nyai di masa itu dianggap sama rendah dengan binatang peliharaan.

Image result for bumi manusia film

Setelah menontonnya kalian akan dibuat terkagum dengan kisah cinta Minke dan Annelies ini. Alur cerita yang ringan dan sederahana sehingga dapat dengan mudah dicerna ketika menontonnya. Masalah demi masalah yang diciptakan terkesan sedikit dipaksakan karna hanya untuk melengkapi alur cerita saja. Sehingga membuatnya kurang ‘ngena’ di hati para penonton.

Image result for bumi manusia film

Karakter Iqbal Ramadhan mungkin menjadi salah satu daya tariknya, namun tidak sedikit juga yang menghujat bahwa karkter Dilan telah menempel pada Iqbal sehingga kurang cocok untuk diperankannya. Karakter Annelies yang diperankan oleh Mawar de Jongh bisa dibilang pas karena raut wajahnya yang memang mendukung. Namun dari keselurahan pemain yang bisa dibilang karakter paling memukau yakni karakter Nyai Ontosoroh yang diperankan oleh Ine Febriyanti.

Related image

Film yang mengambil latar belakang pada saat masih zaman penjajahan ini, Hanung Bramantyo sukses membuat set yang benar-benar mendukung dan terasa nyata. Suasana kolonial yang begitu kontras membuat kita seakan ikut berada di suasana dan situasi tersebut. Overall, film ini patut diacungi jempol.

Leave a Response