Horror

REVIEW: POCONG THE ORIGIN

127views

Nontonapa – Pocong The Origin merupakan film garapan Stravison Plus yang disutradarai oleh Monty Tiwa dan diproduseri oleh Chand Parwez Servia. Uniknya Monty Tiwa mengungkapkan bahwa film Pocong The Origin ini merupakan reinkarnasi dari film Pocong (2006) yang digarap oleh Rudy Soedjarwo. Dengan latar belakang Anata (Surya Saputra) cerita seorang pembunuh berdarah dingin yang telah diesekusi mati oleh pihak negara. Sashti (Nadya Arima) yang merupakan anak satu-satunya harus mengantarkan jenazah ayahnya untuk dimakamkan di kampung halaman ayahnya sesuai wasiat yang telah diberikan sebelumnya. Saat itu Sasthi ditemani dengan seorang sipir penjara bernama Yama(Samuel Rizal), keduanya berpacu untuk mencampai kempung halaman Anata hal ini menjadi semakin sulit karena disepanjang perjalanan Sastha dan Yama mengalami banyak gangguan ghoib yang menghalangi mereka di sepanjang perjalanan.

Pada awal film kita akan ditujukan dengan seorang sosok Anata pembuh berdarah dingin yang memiliki ilmu hitam banaspati. Anata banyak meresahkan warga selama ini ia dengan bebas berkeliaran hingga akhirnya ditangkap polisi dan dieksekusi mati. Pada saat itu malam tiba dan Anata dieksekusi mati sembari ditunggu oleh Sasthi anaknya. Momen selama eksekusi itu membuat bulu kuduk merinding ditambah dengan alunan lagu “Dibawah Sinar Bulan Purnama” adrenalin kita semakin diuiji.

Meski begitu Sasthi melihat sosok ayahnya adalah sosok yang penyayang, seusai wasiat ayahnya setelah eksekusi untuk diantarkan ke kampung halamannya di Cimenyan bersama Yama. Dalam sepanjang berjalanan mereka diganggu dengan berbagai gangguan ghoib inilah yang membuat daya tarik film ini sedikit melemah. Suasananya memang mencekam dan efek sinematografinya pun bisa dikatakan bagus. Yang membuat lemah ini dari segi hantu-hantu yang ditampilkan tidak sesuai dengan yang diceritakan. Berulang kali terdengar suara tangisan hingga terasa ini menjadi monoton.

Menjadi istimewa ketika film yang dibuat seseram mungkin namun tetap menambahkan unsur komedinya. Kehadiran Yama yang dipernakan Samuel Rizal dengan logat pantura tapi masih kaku ini yang mengundak gelak tawa. Mungkin dari segitu akting Samuel Rizal kali ini sedikit mengecewakan dibanding film-film yang telah diperankannya. Overall, akting Surya Saputra dan Nadya Arima diperankan dengan begitu baik dan patut diacungki jempol. Belum lagi sosok yang memerankan saat menjadi pocong ini benar-benar dipernakan oleh Surya Saputra tanpa pemeran pengganti. Wah sungguh totlitas ya, salut untuk Surya Saputra!

Durasi yang bisa dikatakan panjang ini tidak dimanfaatkan dengan baik, pada saat menuju babak akhir film ini justru alur ceritanya terkesan tergesa-gesa mengungkap kan satu-satu rahasinya. Terkadang ada dibeberapa bagian yang dibuat terlalu gelap, sekan hampir tidak terlihat kejadian apa yang sedang terjadi. lebih parahnya lagi ketika adegan Yama menggunakan bahasa pantura tidak sama sekali ada terjemahan. Bisa dikatakan film ini tidak terlalu buruk namun tidak bagus. Masih worth it untuk ditonton, selamat menonton untuk yang pernasaran!

 

Review overview

PLOT4
TOKOH7
VISUAL7.5
ENDING7.3
6.5

Summary

Leave a Response